Film yang bercerita tentang 3 perempuan yang bernama Titik dengan berbeda kisah cerita. Berawal dari Lola Amaria sebagai Titik Dewanti yang berperan sebagai salah satu Manager Sumber Daya Manusia di sebuah pabrik garmen besar di Ibukota. Dengan jabatan yang didudukinya ia berusaha untuk memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh terutama wanita. Dalam perjuangannya ia ingin menciptakan suatu sistem dimana perusahaan dan karyawan buruh saling menguntungkan. Namun usahanya sia-sia, sifat atasannya yang begitu takut resiko kerugian pada perusahaan menolak proposal sistem kerja yang di ajukannya. Pihak perusahaan tetap pada pendiriannya yaitu Meraih untung sebesar-besarnya dan mengeluarkan modal sedikit-dikitnya yaitu tetap memberikan upah kecil pada karyan buruhnya.
Lalu, ada Ririn Ekawati sebagai Titik Sulastri memerankan janda beranak dua, yang harus berjuang susah payah untuk tetap bekerja di pabrik demi menafkahi kedua anaknya. Peran Titik yang juga sebagai penderita kanker cukup memberi rasa terenyuh Melihat bagaimana seorang ibu sekaligus penderita kanker harus berjuang melawan getir dan tekanan dari pabrik tempat ia bekerja tidak memberi tolerir buruh untuk cuti.
Diakhir film, memang tidak memperlihatkan bagaimana kelanjutan dari perjuangan ketiga wanita ini. Bagi saya cukup mengecewakan ketika melihat akhir filmnya. Tidak ada kebahagiaan dan tidak ada kelanjutannya. Film "Kisah 3 Titik" ini membuat saya berfikir . Realita ini belum berakhir dan tidak ada titik penyelesaiannya. Cerita mereka masih berkelanjutan di realita kehidupan sebenarnya. Dan entahlah seperti apa kisah selanjutnya Titik-titik yang sebenarnya diluar sana.
Namun inspirasi yang saya dapat memberikan pandangan ketika kita berada dikalangan atas dan bawah. Maksudnya, belajar dari Titik Dewanti karirnya yang memiliki karir bergengsi yaitu sebagai Manager HRD ia tetap memperhatikan ke ibaaan serta hak-hak kaum buruh yang harus diperjuangkan dan dibela. Ia memiliki semangat untuk mempersejahterakaan masyarakat kecil tanpa harus merugikan perusahaan.
Lalu dari Titik Tomboy saya belajar, meskipun kaum buruh dari masyarakat kecil bukan berarti mereka hidup untuk ditindas dan dirugikan. Mereka punya hak untuk tidak diperbudakan dan mendapat kelayakan upah ditengah tergencatnya perekonomian di negeri ini.
Film ini recomended sekali untuk masyarakat yang ingin melihat segelintir realita di negeri ini. Terutama untuk perempuan, saya harap jiwa emansipasi kita semua tergugah untuk melakukan sesuatu yang dapat merubah kebrobokan negeri ini. Saya mendapat jawaban dari film ini, "Hey para perempuan kemana suara dan aksimu, ayo sama-sama kita bangun negeri ini untuk lebih baik, setidaknya untuk lingkungan sekitarmu saat ini"

0 komentar:
Posting Komentar