Ayi Sakiek
Tangannya kaku dan wajahnya begitu
bersih bersinar dalam tidur panjangnya. Disekitarnya hanya terdengar suara
orang-orang mengaji dan sesengguk tangis. Itu senyum terakhir yang dapat
dilihat oleh Yarda. Wajah yang teduh setiap harinya dilihat, sebentar lagi akan
terbenam bersama tanah merah. Hari ini
aku tidak akan cerewet lagi akan kegemaranmu meminum kopi. Batin Yarda. Minuman
yang sama-sama kita sukai.
Pikiran kita sama, menyukai cairan
berwarna hitam itu demi meningkatkan stamina atau menenangkan pikiran saat ada
saja masalah. Sebelum aku melarangnya, kita suka sekali sama-sama curhat,
berdiskusi ditemani kopi sachetan yang beli diwarung. Kita sama-sama suka kopi.
Kita sama-sama membutuhkan ketenangan ditengah keramaian. Yarda menghentikan
ketikannya di akhir kata keramaian.
“Selera kopi lo, boleh juga Yar” Ebi membuka
percakapan
“Ngga
juga, gw lebih sering minum kopi sachetan, Bi” Yarda mengucap sambil sibuk
dengan laptopnya
“Boong
banget lo, gw aja baru tahu loh ternyata ada kopi terbuat dari daun”.
“Seriusan”
Yarda
menatap Ebi untuk meyakinkan.
“Masa
sih lo lebih suka kopi warung?”
“Soalnya
kopi yang gw mau relatif lebih mahal dari kopi recengan, belom ongkos kirimnya” Yarda masih menatap laptopnya.
Perlahan satu sama lain menemukan
titik penatnya. Basa-basi yang dilontarkan masing-masing personal tidak
memberikan hasil dari pertemuannya kali ini. Sebenarnya, saling merasakan ada
kejanggalan dihati. Ebi sudah tahu, Yarda sangat menyukai kopi. Bahkan setiap
jalan bersama, perempuan yang ada didekatnya ini sering memesan secangkir kopi.
Hanya saja ia kehabisan topik pembicaraan. Keduanya saat ini tengah tenggelam
dikesibukan masing-masing.
Terkadang, suasana romantis yang
senyap ditemani lantunan lagu akustik memberikan nyawa tapi jika hati tidak
nyaman semua terasa hambar. Apa-apa semua tergantung hati, dari kopi sampai
cinta hanya dia yang berhak menilai. Padahal dia hanyalah segumpal daging tapi
entahlah dia selalu dilibatkan. Dia selalu saja dibawa-bawa.
“Aku
sayang sama kamu, sama seperti halnya rasa sayang kamu jika kopi tidak habis
dalam cangkir” Ebi mendadak membuka obrolan kembali. Yarda masih tetap
melanjutkan dirinya bersama laptop.
Ebi menyayangi Yarda, ini kedua
kalinya ia mengucapkan. Pertama saat ia mengungkapkan cinta. Kedua saat
hubungan diujung tanduk. Rasa sayangnya kepada perempuan di hadapannya tidak
dapat dihindari. Kopi memang memberikan rasa pahit dilidah tapi jika kamu rasakan
dengan peka dia memberikan manisnya yang berbeda. Bagi Yarda, tak masalah
diberikan bergelas-gelas kopi pahit itu lebih menenangkan dibandingkan satu
cinta yang pahit untuknya.
“Aku
rasa bagi kamu cinta dan kopi punya arti yang sama tapi ngga buat aku”
Yarda
menurunkan layar laptopnya.
“kopi
sama saja seperti cinta kan, pahit tapi tetap saja membuat nagih”
Yarda tersenyum tipis. Jika kopi
disamakan cinta bisa saja, sudah pasti pahit tapi memberikan rasa ingin lagi
dan lagi. Kopi dan cinta itu beda tipis, kopi dirasa lidah dan cinta dirasa
oleh hati. Kopi memang satu tapi dia datang dari berbagai tempat. Sama
sepertinya cinta, dia esa tapi dia bisa saja datang dari berbagai jiwa
seseorang.
“Mah
udah dong jangan ngopi mulu, ngga baik buat kesehatan” ucap Yarda kepada
perempuan setengah baya disampingnya.
“Kamu
ngelarang mama, tapi kamu sendiri sudah dua cangkir loh Yar. Mama sehari sekali
kan”
“Tapi
tetap ma, kata dokter jangan disering-seringin. Besok dua hari sekali deh”
“Karna
kamu masih muda, jadi boleh dengan seenaknya ngopi? Nggak Yar!”
Disamping
Ibunya, Yarda mencari-cari info manfaat kopi yang baik untuk kesehatan ibunya. Di
Indonesia punya banyak kopi-kopi terbaik yang memberikan banyak manfaat untuk
kesehatan. Salah satunya adalah Kopi Kawa Daun. Ya, kopi ini memang terbuat
bukan dari biji tetapi daunnya. Minuman ini adalah khas dari tanah kelahiran
ibunya, Padang.
“Mama
tau kopi kawa daun?”
“Ya,
Mama tau lah.. Itu ada di daerah bukit tinggi, dulu itu tempat nongkrong anak
muda jaman mama”
“Jadi
kalo pacaran, Mama kesana terus?” tanyaku ingin tahu lebih
“Itu
kalo untuk sekedar kumpul-kumpul aja bersama teman-teman tapi lain halnya kalo
bersama pacar”
“Kok
bisa berbeda gitu Mah?” tanyaku lagi
“Bagi
yang pacaran, datang ke warung kopi Atuak Saleh kalo masih ada ya, punya
kenangan tersendiri Yar. Kenangan pahit sekaligus manis”
“Maksudnya
pahit dan manis seperti apa Ma?”
“Manisnya,
pas lagi kita berdua menikmati kopi sambil melihat hantaran pemandangan di
sana”
Yarda
begitu menyimak cerita Ibundanya.
“Pahitnya,
disana selalu menjadi tempat untuk orang minta putus. Itu terkenal dengan
tempat putus. Ada yang putus untuk menikah atau putus tidak melanjutkan
hubungan.”
Mendengar cerita ibunya, ada rasa
penasaran dan keinginan Yarda untuk datang ke warung kopi Atuak Saleh. Tetapi
belum tentu tempat itu masih ada. Dengar-dengar warung-warung kopi pinggiran
Bukit Tinggi sana digusur dan pindah lokasi. Padahal sudah ada dari tahun
60-an. Terkenal pada tahun 70-an saat Mama masih remaja.
Akan tetapi bukan itu sebenarnya
yang menjadi pembahasan bagi Yarda. Dia menemukan beberapa artikel akan manfaat
dari kopi Kawa Daun. Berbagai sumber mengatakan Kopi ini berkhasiat bagi
penyakit kolesterol, darah tinggi, asam urat dan asma. Uniknya, kopi ini tidak
memiliki ampas. Cara menikmatinya cukup direbus lalu kemudian saring dari
daunnya. Ya itu tadi, kopi ini berasal dari kampung halaman Ibunda Yarda.
Sedikit dongeng dari Ibundanya. Pada
waktu masa penjajahan kolonial Belanda, rakyat minangkabau sangat menyukai
kopi. Akan tetapi, hal itu dilarang karena kopi hanya diperuntukkan oleh
orang-orang Belanda. Maka, cara lain rakyat menikmati kopi dengan mensangrai
daun kopi lalu kemudian merebusnya. Ternyata, daun kopi pun tetap memberikan
rasa dan aroma yang sama. Lalu mengapa dinamakan Kawa Daun, karena kopi ini
dinikamti oleh masyarakat dibukit tinggi. Terkenal dengan kota dibawah kaki
gunung atau dekat kawah gunung.
“Ada
dulu mantan Mama, sampai menjuluki kopi itu Ayi
Sakiak karena saat itu bukan kopi yang dia minum tapi air sakit” ucap Mama
sambil tertawa mengenang masa lalunya.
“Papa
pernah ngga, Mama bawa kesana atau pacaran disana?”
“Dulu
sebelum pacaran kita kesana mulu, bareng pacar masing-masing eh pas pacaran
udah ngga”
Aku
tertawa lepas mendengar masa lalu Mama. Tak terasa kopiku sudah habis lagi dan
aku berniat untuk membuat lagi.
“Kamu
mau kemana ?” “Mau buat kopi, Ma” jawabku. Mama menarik kembali tanganku.
“Kamu
tahu ngga Yar, menariknya ngopi itu. Meskipun sudah lalu habis, terus dia
menyisakan ampas. Sama seperti hidup, terus termakan waktu tetapi dia
menyisakan kenangan” ucap Mama sambil menyesap kopinya yang sudah habis. Lalu,
memberkan gelasnya kepadaku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Aku
sayang kamu, banyak kepahitan yang terjadi, tapi kita tetap menjalaninya. Kamu
mau kan maafin aku Yar?” ucap Ebi memecahkan lamunanku. Pandangan Yarda kali
ini beralih kearah pemandangan. Sejenak ingin segarkan pikiran apa yang telah
diucapkan laki-laki dihadapannya.
Berkali-kali
mengatakan maaf dan sayang. Yarda harus bisa memtuskan untuk saat ini.
“Aku
sengaja nyusul kamu ke Padang dan mengajak kesini karena dulu kamu ingin
ngerasain kopi disini kan” Ebi tersenyum dalam rayuannya.
“Makanya
kamu ngajak ngopi ya biar salah paham ya?” tanyaku membalas senyum.
“Iya
kita ngopi biar enak ngomong hati ke hati nya”
Yarda
sejenak terdiam dan memandang Ebi lagi.
“Kamu
tahu ngga Bi, sepertinya kopi. Dia ngga perna mengkhianati setia rasanya untuk
yang mencintainya”
“Maksud
kamu?”
“Cukup
terakhir kalinya dan sampai disini, rasa kopi menjadi Ayi Sakiek. Maaf sulit bagi
aku nerima kamu yang udah khianatin aku”
Ma,
Kopi Kawa Daun kini menjadi Ayi Sakiek bagi aku. Benar kata Kopi Atuak Saleh mempunyai arti cerita
sendiri akan kopi yang dicintai bagi penikmatnya.
\
0 komentar:
Posting Komentar